lingkungan bisnis -GLOBAL CORPORATE CITIZENSHIP

Posted on Februari 4, 2012

0


LINGKUNGAN BISNIS(GLOBAL CORPORATE CITIZENSHIP)
by RUDI  YULIANTO
 
 
corporate citizenship digunakan secara luas pada 1990an corporate citizenship. secara luas mengacu pada mempraktekkan tanggungjawab sosial perusahaan.jiwa proaktif membangun kemitraan stakeholder, peluang bisnis di dalam melayani masyarakat, dan mengubah kepedulian untuk kinerja keuangan berdampak visi kinerja keuangan dan sosial yang terpadu.
Roberto Civita, kepala dan CEO Abril Group Brazil, mengartikan keanggotaan korporat adalah  “kapitalisme dengan kesadaran sosial.” Menurut banyak pemimpin bisnis, keanggotaan korporat dulunya simpel dan opsional. sekarang di tahun 2000an, ia telah berdampak rumit dan wajib. Ini karena pasar global, akses informasi yang cepat,  dan harapan stakeholder yang meningkat telah memaksa organisasi dari semua ukuran untuk membangun “strategi keanggotaan korporat yang terpadu” sebagai bagian dari rencana bisnis keseluruhan mereka.
Waktu bisnis menginvestasikan waktu, uang, dan usaha di dalam aktifitas keanggotaan, mereka seringkali memungut imbalan di dalam bentuk reputasi dan legitimasi yang meningkat.
Seorang Penelitian terkini oleh Naomi A. Gardberg dan Charles J. Fombrum mempunyai pendapat bahwa program keanggotaan korporat, khususnya perusahaan global, seharusnya dipandang sebagai “investasi strategis yang sebanding dengan litbang (penelitian dan pengembangan) dan iklan. karena progam itu “menciptakan aset tak berwujud untuk perusahaan yang membantu mereka mengatasi penghalang nasionalistis, memfasilitasi globalisasi, dan membangun keuntungan lokal.”. Aset tak berwujud sesuatu yang tidak bisa dilihat atau disentuh, tetapi memiliki nilai—contohnya reputasi yang baik, hubungan saling percaya, atau loyalitas pelanggan.) , sebaliknya, adalah (Aset berwujud adalah sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh, seperti mesin, bangunan, atau uang
aktifitas keanggotaan korporat dianggap kontributor penting pada “siklus memperkuat melalui dimana korporat global menciptakan legitimasi, reputasi, dan keuntungan kompetitif.” Gardberg dan Fombrun menyatakan efek ini paling mungkin dimana perusahaan memilih konfigurasi aktifitas keanggotaan—mereka menyebutnya profil keanggotaan yang menyesuaikan latar di mana perusahaan bekerja. Contohnya, harapan publik pada filantropi perusahaan, manajemen resiko lingkungan, dan hak-hak pekerja bervariasi di wilayah dan negara berbeda. Perusahaan yang profil keanggotaannya paling sesuai dengan harapan publik lebih mungkin untuk mengambil keuntungan dari investasi strategis di dalam keanggotaan korporat.

GLOBAL CORPORATE CITIZENSHIP

Waktu perusahaan memperluas lingkup aktifitas komersial mereka ke seluruh dunia, tumbuh harapan bahwa mereka akan berperilaku di dalam cara yang meningkatkan keuntungan dan meminimalkan resiko bagi semua stakeholder, dimanapun mereka berada. Ini adalah esensi dari legitimasi di dalam ekonomi global. Perusahaan harus memperoleh dan mempertahankan “izin operasinya” semua  negara melakukan bisnis melalui upayanya untuk memenuhi harapan stakeholder.
Waktu perusahaan melakukan bisnis di lebih dari satu negara, ide keanggotaan harus diterjemahkan ke di dalam konsep keanggotaan korporat global.
Arti keanggotaan korporat global ini konsisten dengan beberapa tema utama yang dibahas di sepanjang buku ini:
•    Keanggotaan korporat menuntut perusahaan untuk fokus pada, dan merespon, harapan stakeholder dan melakukan tindakan sukarela yang konsisten dengan nilai dan misi bisnisnya.
•    Manajer dan perusahaan bertanggungjawab pada semua stakeholder¬-nya.
•    Keanggotaan perusahaan melibatkan lebih dari hanya memenuhi persyaratan hukum.
•    Keanggotaan korporat melibatkan apa yang dilakukan perusahaan dan proses dan struktur melalui mana ia melibatkan stakeholder dan mengambil keputusan, subjek yang nantinya akan dibahas bab ini.

SISTEM MANAJEMEN UNTUK KEANGGOTAAN KORPORAT

Keanggotaan korporat global lebih dari nilai yang menyertai; ia menuntut tindakan. Agar berdampak perusahaan harus membangun proses dan struktur manajemen untuk melaksanakan komitmen keanggotaan mereka. beberapa cara yang diubah perusahaan-perusahaan berpikiran maju untuk meningkatkan kemampuan mereka di dalam bertindak secara bertanggungjawab sosial.
Keanggotaan korporat adalah area praktek manajerial yang berkembang pesat di banyak organisasi. Di beberapa kasus, perusahaan telah memperluas pekerjaan kantor urusan publik untuk meliputi kisaran tugas yang lebih luas. Yang lain telah menciptakan departemen keanggotaan korporat untuk memusatkan fungsi-fungsi keanggotaan korporat kisaran luas di bawah kepemimpinan yang sama.
Sebuah tren yang muncul adalah penciptaan departemen terpisah untuk keanggotaan korporat, seperti di HP, yang bisa mencakup hubungan komunitas, filantropi, keterlibatan stakeholder, audit dan laporan sosial, dan fungsi-fungsi lain. Kepala dari banyak departemen ini adalah wakil presiden senior atau wakil presiden. Beberapa melapor langsung kepada CEO, sementara yang lain ada satu level di bawah ini di dalam hirarki organisasional. Sejumlah perusahaan mendukung kerja pejabat-pejabat ini dengan menunjuk komite anggota dewan dan komite pemantau yang terdiri dari manajer top untuk mengarahkan dan mengawasi usaha keanggotaan perusahaan.
Karena bisnis lebih berkomitmen pada keanggotaan, asosiasi profesional dan konsultasi khusus untuk manajer dengan tanggungjawab di area ini telah muncul.

TAHAPAN KEANGGOTAAN KORPORATE
Perusahaan tidak berdampak anggota perusahaan yang baik hanya di dalam semalam. Proses ini memakan waktu. Sikap baru harus dikembangkan, kegiatan baru dipelajari, kebijakan dan program tindakan baru didesain, dan hubungan baru dibentuk.
Di tahun 2006, Philip H. Mirvis dan Bradley K. Googins dari Pusat Keanggotaan Global di Boston College mengajukan model lima-tahap dari keanggotaan korporat, berdasarkan penelitian mereka dengan ratusan praktisi di kisaran luas perusahaan. Di dalam pandangan mereka, perusahaan biasanya melewati serangkaian lima tahap waktu mereka berkembang sebagai anggota korporat.
Tiap tahap dicirikan dengan pola konsep, niat strategis, kepemimpinan, struktur manajemen isu, hubungan stakeholder, dan transparansi yang khas.
1.    Tahap dasar. Di tahap ini, keanggotaan belum berkembang. Manajer belum tertarik dan tidak terlibat di dalam isu sosial. Perusahaan cenderung defensif; mereka hanya bereaksi waktu terancam. Komunikasi dengan stakeholder berlangsung satu arah: dari perusahaan ke stakeholder.
2.    Tahap Keterlibatan. Di tahap kedua ini, perusahaan biasanya sadar akan mengubah harapan publik dan melihat kebutuhan untuk mempertahankan lisensi operasi mereka. Perusahaan yang terlibat bisa mengadopsi kebijakan formal, contohnya menjalankan standar buruh atau HAM. Mereka mulai berinteraksi dan mendengarkan stakeholder, walaupun keterlibatan terjadi terutama melalui departemen-departemen mapan. Manajer top berdampak terlibat. Seringkali, perusahaan di tahap ini akan melangkahi pemberian filantropinya atau berkomitmen pada tujuan lingkungan spesifik.
3.    Tahap Inovatif. Di tahap ketiga ini organisasi mungkin sadar bahwa mereka kekurangan kapasitas untuk menjalankan komitmen baru, mendesak gelombang inovasi struktural. Departemen-departemen mulai berkoordinasi, program baru diluncurkan, dan banyak perusahaan mulai melaporkan upaya mereka pada stakeholder. Kelompok eksternal berdampak lebih berpengaruh. Perusahaan mulai lebih memahami alasan bisnis untuk terlibat di dalam keanggotaan.
4.    Tahap Terpadu. Waktu mereka bergerak ke tahap keempat, perusahaan melihat ada kebutuhan untuk membangun inisiatif yang lebih koheren. Perusahaan terpadu bisa mengadopsi ukuran triple bottom line (dijelaskan lebih lanjut di bab ini), beralih ke audit eksternal (seperti yang telah dilakukan Mattel, dijelaskan di contoh pembukaan bab ini), dan memasuki kemitraan berlanjut dengan stakeholder.
5.    Tahap Transformasi. Ini adalah tahap terakhir sekaligus tertinggi di dalam model. Perusahaan di tahap ini memiliki pemimpin visioner dan dimotivasi oleh pengertian tujuan korporat yang lebih tinggi. Mereka bermitra erat dengan organisasi dan individu di lintas bisnis, industri, dan batas nasional untuk mengkaji masalah sosial dan mencapai pasar yang belum dimasuki.
Pembuat model ini menekankan bahwa perusahaan individual bisa ada di lebih dari satu tahap di dalam satu waktu, jika perkembangan mereka lebih cepat di beberapa area daripada yang lain. Contohnya, sebuah perusahaan mungkin mengaudit aktifitas mereka dan mengungkap penemuan pada publik di dalam laporan sosial (transparansi, tahap 5), tetapi masih berinteraksi dengan stakeholder di dalam pola pengaruh mutual (hubungan stakeholder, tahap 3). Hal ini normal, karena masing-masing organisasi berkembang di dalam cara yang mencerminkan tantangan tertentu yang dihadapinya. Namun demikian, karena dimensi keanggotaan korporat berkaitan, mereka cenderung berdampak lebih terjajar seiring waktu.
Waktu komitmen keanggotaan korporat telah berdampak makin menyebar di komunitas bisnis global, mereka telah menarik kritik seperti halnya pujian. Inisiatif keanggotaan telah ditantang atas dasar apakah mereka mewakili usaha dangkal untuk menaikkan reputasi, tanpa hakikat sebenarnya, atau mereka terbatasi oleh kepentingan memaksimalkan-laba perusahaan, atau keduanya.

KEANGGOTAAN KORPORAT DI DALAM PERSPEKTIF KOMPARATIF
Bisnis di banyak negara sekarang mempraktekkan keanggotaan aktif. Program dan kemitraan keanggotaan korporat telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Tetapi di waktu yang sama, bagaimana bisnis menafsirkan dan bertindak atas komitmen keanggotaan mereka bervariasi di area-area berbeda.
Keanggotaan korporat, yang telah menyebar di seluruh dunia, bervariasi menurut negara dan wilayah. Perbedaan ini dipicu oleh variasi di dalam tuntutan regulatif, keterlibatan pemerintah, keaktifan stakeholder, dan tradisi budaya.

AUDIT KINERJA SOSIAL
Waktu perusahaan di seluruh dunia memperluas komitmen mereka pada keanggotaan korporat, mereka juga meningkatkan kapasitas mereka di dalam mengukur kinerja dan menilai hasil. Audit kinerja sosial adalah evaluasi sistematis dari kinerja sosial, etika, dan lingkungan organisasi. Biasanya, ia meneliti dampak bisnis pada dua benchmark: kebijakan atau pernyataan misi perusahaan dan perilaku organisasi lain dan norma sosial sering mengambil bentuk standar global.
Sebagai respon pada munculnya minat yang ditunjukkan oleh eksekutif korporat, peneliti telah mengembangkan beragam skala keanggotaan korporat ideal yang bisa membandingkan aktifitas keanggotaan perusahaan. Audit kinerja sosial tidak hanya memandang apa yang dilakukan organisasi, tetapi juga hasil tindakan-tindakan ini.
Beberapa audit sosial perusahaan dikritik keras dari kritikus yang menuduh hal itu sebagai usaha penipuan untuk meningkatkan reputasi perusahaan, tanpa hakikat yang nyata.

Standar Audit Sosial Global
Standar untuk menilai kinerja korporat telah dikembangkan oleh sejumlah organisasi. Termasuk Organisasi untuk Standar (ISO 14001, 14063, dan 26000), Inisiatif Pelaporan Global, Akuntabilitas Sosial 8000, dan Akuntabilitas Institut Akuntabilitas Sosial dan Etika (ISEA), atau AA 1000, dan panduan lebih umum yang disebarluaskan di dalam Kompak Global PBB.
Penerimaan dan penggunaan semua standar ini oleh perusahaan telah berkembang sejak permulaannya. Masing-masing standar menyadari dan berkonsentrasi pada kombinasi keuntungan ekonomi yang terfokus secara internal untuk perusahaan, seperti halnya keuntungan sosial yang terfokus secara eksternal untuk lingkungan dan stakeholder utama. Standar ini mekeuntungankan struktur pengaturan stakeholder berganda sehingga perusahaan berinteraksi dengan banyak stakeholder yang ingin dilayaninya melalui berbagai target kinerjanya. Banyak perusahaan yang berkomitmen pada praktek yang responsif secara sosial telah menggunakan ini dan standar lain dan telah menyediakan laporan mereka secara online untuk stakeholder dan masyarakat umum. Sementara sebagian besar standar bersifat sukarela, beberapa bisnis telah menggabungkan standar ke di dalam rencana strategis mereka dan lebih banyak stakeholder mengharapkan perusahaan taat kepada standar-standar global ini.

Laporan Sosial dan Lingkungan
Selain melakukan pengukuran kinerja sosial yang ekstensif, beberapa organisasi telah melakukan tindakan tambahan yaitu melaporkan upaya mereka melalui laporan lingkungan dan sosial korporat.
Di dalam studi lain yang dilakukan oleh Jaringan Analis Riset Investasi Sosial (SIRAN) di tahun 2006, 79 perusahaan dari Indeks 100 Standar dan Buruk (S&P) memiliki bagian khusus di dalam situs web mereka yang diperuntukkan untuk membagi informasi mengenai kebijakan dan kinerja sosial dan lingkungan mereka.
Menurut perusahaan dengan laporan tanggungjawab sosial, pemicu ekonomi dan pemicu etika adalah motivator utama untuk menerbitkan laporan. Dialog stakeholder disebutkan di hampir 40% laporan. Perusahaan fokus pada beragam isu sosial, seperti standar buruh, kondisi kerja, keterlibatan masyarakat, dan filantropi, seperti halnya isu ekonomi. Salah satu isu paling menekan di tahun 2005—perubahan iklim—dibahas di sekitar 85% laporan.
Waktu dianalisis menurut wilayah geografi, survey menemukan bahwa laporan tanggungjawab sosial berkembang di banyak wilayah di dunia.

Balanced Scorecard
Selain laporan tanggungjawab sosial formal, organisasi telah beralih pada metode pelaporan sosial lain untuk berkomunikasi dengan stakeholder mereka. Sistem balanced scorecard muncul di tahun 1992. Diperkenalkan oleh dua profesor, Robert Kaplan dan David Norton, balanced scorecard adalah set terfokus dari indikator keuangan dan nonkeuangan, dengan empat kuadran atau perspektif—orang dan pengetahuan, internal, pelanggan, dan keuangan. Balanced, di dalam kasus ini, tidak mesti berarti setara; malahan, ini adalah alat untuk mendorong manajer untuk mengembangkan dan menggunakan metrik kinerja yang melingkupi semua aspek kinerja.
Menurut Kaplan dan Norton, ukuran keuangan tradisional itu penting, tetapi tidak lagi memadai. Ukuran keuangan menceritakan kejadian masa lalu, sebuah kisah yang mencukupi untuk perusahaan era industri di mana investasi di dalam kapabilitas jangka-panjang dan hubungan pelanggan tidak penting untuk kesuksesan.
Organisasi melaporkan beberapa motivasi untuk mengadopsi pendekatan balanced scorecard. Hal ini meliputi pertimbangan ekonomi, pertimbangan etika, inovasi dan pembelajaran, motivasi karyawan, manajemen resiko atau pengurangan resiko, akses untuk modal atau nilai pemegang saham yang ditingkatkan, reputasi atau merk, posisi atau pangsa pasar, hubungan pemasok yang diperkuat, dan penghematan biaya.

Triple Bottom Line
Pendekatan lain pada pelaporan kinerja sosial korporat ditangkap oleh istilah Triple Bottom Line. Tentu saja garis dasar mengacu pada angka di akhir laporan keuangan perusahaan yang menyimpulkan pendapatan, setelah pengeluarannya. Laporan triple bottom line adalah waktu perusahaan tidak hanya melaporkan hasil keuangan mereka pada stakeholder—seperti di dalam laporan tahunan tradisional pada pemegang saham—tetapi juga dampak sosial dan lingkungan mereka.
Bisnis-bisnis telah menyadari, melalui ketaatan pada nilai dan misi mereka atau dari tekanan dari luar, bahwa stakeholder menuntut transparansi yang lebih besar, artinya, laporan publik yang jelas dari kinerja organisasi pada beragam stakeholder dan laporan penuh tidak hanya data keuangan tapi juga lingkungan dan sosial.

PENGHARGAAN UNTUK KEANGGOTAAN KORPORAT
Pengakuan terhadap corporate citizenship telah meningkat secara dramatis. Sejak tahun 2000, akademisi mahasiswa telah melakukan kemitraan dengan KLD Research and Analytics untuk menilai dan memberikan penilaian kepada stakeholder untuk menciptakan daftar “100 Best Corporate Citizens”. Pada tahun 2006, skor yang tertinggi dicapai oleh Green Mountain Coffee, Hewlett-Packard, Advanced Micro Devices, Motorola, dan Agilent Technology.
Reputasi perusahaan adalah dasar dari peringkat yang dikembangkan melalui survey online yang disponsori oleh Institut Reputasi dan Interaktif Harris. Penilaian berfokus pada bagaimana orang menangkap reputasi perusahaan.
Selain peringkat yang dihitung oleh akademisi dan dilaporkan dari jajak pendapat publik, manajer bisnis melakukan penilaian mereka sendiri atas reputasi perusahaan dan kinerja keanggotaan. Perusahaan – perusahaan tersebut memberi teladan beberapa praktek corporate citizenship yang terbaik di era ini waktu perusahaan disebut bergerak ke arah retorik dan memberikan komitmen mereka terhadap tanggungjawab sosial dan lingkungan ke di dalam tindakan.

file powerpointnya bisa di download disini

atau cari di link http://www.ziddu.com/download/18508986/GLOBALCORPORATECITIZENSHIP.rar.html